MRT analisa interkoneksi-integrasi di 13 stasiun

Jakarta (ANTARA News) – PT MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta saat ini menganalisa interkoneksi dan integrasi untuk mendukung sistem integtrasi transportasi di Jakarta.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar yang paling “instrumental” saat ini adalah menginterkoneksikan dengan moda transportasi yang sudah terbangun saat ini, yakni TransJakarta.

“Karenanya hari-hari ini kita melihat satu per satu area stasiun untuk menganalisa di mana kira-kira titik yang bisa dilakukan integrasi atau rute mana yang akan masuk ke stasiun MRT,” ujarnya.

Hingga saat ini, William mengatakan pihaknya sudah melihat stasiun Fatmawati untuk menganalisa lokasi turun kendaraan pribadi, feeder TransJakarta dan bus TransJakarta, penentuan potensi titik-titik transfer hingga penentuan lokasi parkir.

“Sehingga nantinya misal yang bawa kendaraan pribadi ada lokasi parkirnya dan transfer ke TransJakarta dan MRT, khususnya di luar stasiun-stasiuan Sudirman-Thamrin,” ujarnya.

William mengatakan analisa tersebut melibatkan pihak TransJakarta dan hasilnya akan disampaikan pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada akhir Bulan Januari ini.

“Besok kami akan betemu dengan TransJakarta dulu sebelum kami bersama mempresentasikan hasil analisa kami ke Pemprov DKI Jakarta,” kata William.

Selain soal aksesibilitas, integrasi tersebut juga, kata William, akan mencakup soal penggunaan kartu (ticketting) untuk pembayaran di mana MRT sendiri memiliki kartu tersendiri yang hanya bisa digunakan di moda transportasi MRT. Karenanya pihak MRT menggandeng perusahaan perbankan untuk bisa mengintegrasikan sistem tiket ini.

Akan tetapi, Direktur Pengembangan dan Dukungan Bisnis MRT Jakarta Ghamal Peris menyebut kerjasama tersebut tidak akan dilakukan pada semua perbankan.

“Pasalnya kartu kami bisa terbaca dengan cepat di sistem kami dan ada beberapa kartu yang dikeluarkan bank tidak bisa terbaca, karenanya kerjasama ini akan pada beberapa bank saja,” kata Ghamal.

Ke depannya, integrasi tiket antar moda ini, akan dikelola sebuah perusahaan patungan antara MRT, LRT dan TransJakarta yang nantinya juga akan bisa ditentukan “bundling price” (harga gabungan).

Untuk harga sendiri, saat ini MRT mengusulkan tarif sebesar Rp8.500 per 10 kilometer yang sudah disampaikan pada Pemprov DKI Jakarta dan menunggu keputusan pemerintah.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019